Ecoway Conservation Logo
Catatan dari Ecoway Networking: Mengapa Kita Kompak Menganaktirikan Pahlawan Laut Ini?

Catatan dari Ecoway Networking: Mengapa Kita Kompak Menganaktirikan Pahlawan Laut Ini?

Admin Ecoway

Jul 2, 2026 • 4 min read

Journey

Suasana sesi monolog dalam gelaran Ecoway Networking - Earth Story: Voice from bluemakers mendadak senyap saat Gusti Ayu Made Mira Rismayanti atau yang akrab disapa Kak Atu melempar satu pertanyaan pemantik ke arah audiens:


"Kalau laut hilang, Bali apakah masih menjadi Bali?"


Bagi sebagian besar dari kita yang hadir di sana, laut Bali mungkin hanya diidentikkan dengan memori liburan, deburan ombak tempat berselancar, atau latar belakang matahari terbenam yang estetik untuk media sosial. Namun melalui rangkaian monolog dan dialog di event ini, para bluemakers (sebutan untuk para penggerak ekosistem laut) mengajak kita untuk melihat melampaui keindahan permukaan tersebut.


Sebagai media yang terus memantau isu lingkungan, pemaparan dari Bendega Alam Lestari di sesi dialog kemarin layaknya sebuah tamparan keras. Selama ini, perhatian publik dan anggaran konservasi dunia habis terserap untuk merayakan megahnya hutan mangrove atau indahnya transplantasi terumbu karang.

Namun, tepat di dasar perairan dangkal yang kerap dilewati perahu, ada satu pahlawan super yang sedang sekarat dalam senyap: Lamun (Seagrass). Mengapa kita kompak menganaktirikannya?


Pahlawan Iklim yang Memiliki Daya Serap 3-5 Kali Lipat

Dalam catatan ilmiah yang dibagikan Bendega Alam Lestari di meja dialog, padang lamun bukanlah sekadar rumput laut biasa. Di bawah permukaan air, tanaman ini memegang peran krusial sebagai fondasi kehidupan pesisir.


Secara mengejutkan, data menunjukkan bahwa padang lamun memiliki kemampuan menyerap karbon hingga 3-5 kali lebih besar daripada hutan hujan tropis! Tidak hanya itu, lamun adalah pelindung alami pesisir dari sedimentasi, penjaga kejernihan air, dan rumah asli tempat ikan-ikan kecil mencari makan dan berlindung.


Namun karena posisinya berada di dasar perairan dangkal, kerusakannya jarang terlihat langsung oleh mata telanjang (out of sight, out of mind*). Kita tidak akan sadar ia rusak sampai akhirnya ikan-ikan menghilang dan pesisir kita mulai runtuh.


Realita Lapangan dari Pesisir Pantai Mertesari

Melalui dokumentasi dan riset yang dipaparkan oleh Kak Atu, tim kami mencatat realita pahit yang sedang terjadi di Pantai Mertesari, Sanur:


Kegelapan Bawah Air: Masifnya pembangunan fasilitas wisata dan padatnya lalu lintas perahu membuat air laut menjadi keruh. Sedimen yang berterbangan mereduksi cahaya matahari, membuat lamun gagal berfotosintesis dan perlahan mati tertutup.


Monster dari Daratan: Berdasarkan data Bendega, ancaman terbesar lamun justru bukan berasal dari aktivitas laut, melainkan kiriman sampah plastik dari darat. Sampah-sampah ini terbawa arus, tersangkut di dasar laut, dan secara mekanis mencabut lamun hingga ke akarnya.


Saat lamun ini tercabut, efek dominonya langsung memukul masyarakat pesisir. Nelayan lokal, seperti Pak Tante di pesisir Belanjong, mengeluhkan bagaimana ikan-ikan mulai menjauh karena rumah alami mereka di pinggiran telah hancur.


"Nyawi Yang Segara": Ikhtiar Menghidupkan Kembali Laut

Melihat urgensi yang mendesak ini, Kak Atu bersama Bendega Alam Lestari menginisiasi sebuah program restorasi bertajuk "Nyawi Yang Segara"—sebuah frasa lokal Bali yang bermakna menghidupkan kembali laut.


Karena restorasi lamun merupakan hal baru, mereka tengah menguji coba metode ilmiah bernama Boast Line (Belt and Oriented Seagrass Stabilization Line). Metode ini dirancang agar bibit lamun yang ditanam bisa tetap stabil menghadapi arus pesisir yang dinamis, sehingga meningkatkan peluang hidupnya di dasar laut.

Hebatnya, proyek ini tidak berjalan di dalam menara gading akademisi saja. Bendega melibatkan pemuda pesisir, pelaku wisata, dan para nelayan sebagai aktor utama yang memantau perkembangan lamun setiap harinya.


Konklusi: Bersuara Lewat Sistem, Bukan Sekadar Seremoni

Sesi monolog di Ecoway Networking - Earth Story: Voice from bluemakers hari itu ditutup dengan satu pesan kuat dari Kak Atu yang terus terngiang di benak kami: 

“Coastal Without Waste".


Menyelamatkan pesisir bukan sekadar tentang aksi musiman memungut sampah di pantai saat akhir pekan. Bersih-bersih pantai itu baik, tetapi itu hanya menyelesaikan hilir masalah. Isu utamanya adalah bagaimana kita—masyarakat yang tinggal di darat—membangun sistem hidup yang lebih bijak agar konsumsi harian kita tidak benar-benar berakhir menjadi racun yang mengubur padang lamun di dasar samudera.

Sebab jika laut Bali kehilangan denyut nadinya, identitas Pulau Dewata ini pun akan ikut sirna bersama hilangnya sang pahlawan sunyi.


#🎧 Ingin Mendengar Suara para Blue-makers Lebih Mendalam?

Pembahasan di ruang dialog kemarin sebenarnya jauh lebih intens dan emosional dari sekadar untaian kata di artikel ini. Kami mengupas tuntas data abrasi pesisir Bali, kisah perjuangan nelayan lokal, hingga detail sains di balik restorasi lamun langsung bersama Gusti Ayu Madeh  Mira Rismayanti (Bendega Alam Lestari)** di program podcast kami.

Jangan lewatkan obrolan penuh daging dan refleksi ini melalui platform favoritmu:


 Nonton versi penuh (Video Podcast) di YouTube: [Link YouTube Kita] 📺

 Dengarkan sambil beraktivitas di Spotify: Dengarkan sambil beraktivitas di Spotify: [Link Spotify Kita] 🎧


Mari luaskan perspektif, karena menjaga laut adalah tugas kita yang tinggal di darat.