
Admin Ecoway
Jun 21, 2026 β’ 4 min read
Ecoway Networking β Voice from Bluemakers
19 Juni 2026
Setiap orang memiliki alasan yang berbeda ketika memutuskan untuk terjun dan berjuang untuk lingkungan. Ada yang berangkat dari kecintaan terhadap laut, kegelisahan melihat sampah yang terus menumpuk, hingga keinginan sederhana untuk membuat lebih banyak orang peduli.
Melalui Voice from Bluemakers, sebuah sesi monolog dalam rangkaian Ecoway Networking, kami menghadirkan enam sosok inspiratif yang selama ini bergerak di berbagai bidang konservasi, edukasi, pengelolaan sampah, hingga pemberdayaan komunitas. Mereka berbagi perjalanan, tantangan, serta dampak yang telah mereka ciptakan untuk laut dan lingkungan.
Lebih dari sekadar berbicara tentang masalah, sesi ini menunjukkan bahwa perubahan dapat dimulai dari berbagai latar belakang dan profesi.
Gustin Ayu Made Mirah Risma
Mengangkat Potensi dan Masa Depan Rumput Laut Indonesia
Sebagai 2026 Restoration Steward dari Bendega Foundation, Mirah membagikan pengalamannya dalam bekerja bersama masyarakat pesisir dan petani rumput laut.
Rumput laut sering kali dipandang sebagai komoditas ekonomi semata, padahal perannya jauh lebih besar. Selain menjadi sumber penghidupan masyarakat pesisir, rumput laut juga memiliki potensi dalam mendukung ketahanan pangan, menyerap karbon, dan memperkuat ekonomi biru yang berkelanjutan.
Melalui berbagai program yang dijalankan, Mirah mendorong lahirnya generasi muda yang lebih dekat dengan isu pesisir serta melihat rumput laut sebagai bagian penting dari masa depan laut Indonesia.
Valerine Chandrakesuma
Sampah Harus Memiliki Nilai agar Masyarakat Mau Mengelolanya
Sebagai Co-Founder & CEO Wedoo, Valerine mengangkat isu pengelolaan sampah dan ekonomi sirkular.
Dalam sesinya, ia menyoroti bahwa tantangan terbesar dalam pengelolaan sampah bukan hanya soal edukasi, tetapi bagaimana menciptakan sistem yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
βTanpa ada value di sana, kita akan sangat sulit memaksa orang untuk mau recycle sampahnya.β
Melalui pengembangan berbagai teknologi dan alat pencacah sampah, Wedoo berupaya membantu masyarakat mengubah sampah menjadi material yang memiliki nilai ekonomi.
Visi yang dibawanya sederhana namun kuat: pengolahan sampah seharusnya tidak terpusat di kota-kota besar saja, tetapi dapat hadir di banyak desa sehingga masyarakat dapat mengelola sampahnya secara mandiri dan berkelanjutan.
Mulyadi Salasanto (Melacak Alam)
Mengenalkan Biota Laut kepada Audiens yang Lebih Luas
Dikenal sebagai kreator konten Melacak Alam, Mulyadi memanfaatkan media sosial sebagai sarana edukasi lingkungan.
Melalui konten-konten yang dibagikan di Instagram dan TikTok, ia memperkenalkan berbagai biota laut yang hidup di wilayah pesisir kepada masyarakat umum.
Pendekatan yang sederhana, ringan, dan mudah dipahami membuat informasi tentang keanekaragaman hayati laut dapat menjangkau audiens yang jauh lebih luas, termasuk mereka yang sebelumnya tidak memiliki ketertarikan khusus pada isu lingkungan.
Apa yang dilakukan Mulyadi menunjukkan bahwa edukasi konservasi tidak selalu harus dilakukan melalui ruang kelas atau seminar. Media sosial juga dapat menjadi alat yang efektif untuk membangun rasa ingin tahu dan kepedulian terhadap laut.
Bryan Auriol
Membuka Ruang bagi Anak Muda untuk Terlibat
Sebagai Founder Narasea, Bryan percaya bahwa banyak anak muda sebenarnya ingin berkontribusi untuk lingkungan, tetapi sering kali tidak tahu harus memulai dari mana.
Melalui Narasea, ia menciptakan wadah yang mempertemukan generasi muda dengan berbagai kegiatan lingkungan, mulai dari program sukarelawan, kampanye edukasi, hingga aksi konservasi.
Pendekatan ini membantu menjembatani semangat anak muda dengan kebutuhan nyata di lapangan. Tidak hanya meningkatkan kesadaran, tetapi juga mendorong lahirnya aksi nyata yang dapat memberikan dampak langsung bagi lingkungan.
Ivonne Herlina
Membuktikan bahwa Perempuan Juga Bisa Menjadi Pemimpin di Laut
Sebagai Marine Biologist dan Dive Master, Ivonne membagikan perjalanan kariernya yang dimulai dari Lombok hingga Nusa Lembongan.
Ia mengangkat pentingnya keterlibatan perempuan dalam sektor kelautan yang selama ini masih sering didominasi oleh laki-laki. Melalui pekerjaannya dalam penelitian, penyelaman, dan restorasi terumbu karang, Ivonne menunjukkan bahwa perempuan memiliki ruang yang sama untuk berkontribusi dan memimpin di bidang konservasi laut.
Perjalanannya menjadi inspirasi bagi banyak perempuan muda untuk berani memasuki dunia sains kelautan, penyelaman profesional, dan restorasi ekosistem laut.
Christine Go
Membangun Kepedulian Laut Sejak Usia Dini
Sebagai seorang Ocean Advocate, Christine percaya bahwa perubahan jangka panjang dimulai dari pendidikan dan keterlibatan masyarakat.
Aktif dalam berbagai program edukasi dan restorasi laut, Christine banyak bekerja bersama komunitas serta anak-anak untuk menanamkan pemahaman tentang pentingnya menjaga laut sejak usia dini.
Keterlibatannya dalam program restorasi berbasis Biorock menunjukkan bagaimana teknologi, komunitas, dan edukasi dapat berjalan beriringan untuk menciptakan dampak yang lebih luas.
Baginya, konservasi bukan hanya tentang memperbaiki ekosistem yang rusak, tetapi juga membangun generasi yang memiliki rasa kepemilikan dan tanggung jawab terhadap laut.
Laut Membutuhkan Banyak Cara untuk Dijaga
Salah satu pesan yang paling terasa dari sesi Voice from Bluemakers adalah bahwa tidak ada satu jalan yang benar untuk berkontribusi pada laut dan lingkungan.
Ada yang bergerak melalui restorasi ekosistem, pengelolaan sampah, edukasi digital, pemberdayaan komunitas, penelitian, hingga pengembangan relawan muda. Semua memiliki peran yang saling melengkapi.
Melalui pertemuan ini, Ecoway berharap semakin banyak orang menyadari bahwa menjaga laut tidak selalu harus dimulai dari hal besar. Setiap profesi, keahlian, dan langkah kecil dapat menjadi bagian dari solusi.
Karena pada akhirnya, masa depan laut tidak dibangun oleh satu individu saja, tetapi oleh banyak orang yang memilih untuk peduli dan bergerak bersama. ππ